I made this widget at MyFlashFetish.com.

Sabtu, 08 November 2008

Kerusakan Kawasan DAS

Berfungsinya sistem hidrologi pada ekosistem daerah aliran sungai akan meminimalkan sampai titik terendah banjir dan kekeringan. Banjir dan kekeringan merupakan dua peristiwa saling menunjang, terjadi pada kurun waktu musim yang berbeda. Banjir atau kekeringan terjadi terutama di kawasan hilir (rendah).
Fenomena degradasi alam sebagai akibat ulah menusia dengan indikasi banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau sudah merupakan acara rutin tahunan. Berbagai bentuk kegiatan normalisasi sungai untuk menangani masalah tersebut selalu dilakukan, bahkan menelan biaya relatif tinggi bila dibandingkan dengan program pembangunan lain. Kenyataan di lapangan menunjukkan, banjir atau kekeringan justru semakin parah kondisinya dan menambah penderitaan masyarakat.
Kota atau kabupaten dengan wilayah administratif tidak akan bertambah luas, pada sisi lain jumlah penduduk terus bertambah. Urbanisasi dan angka kelahiran sebagai faktor penyebab penduduk kota atau kabupaten di kawasan pantura terus bertambah. Konsekuensi yang ditimbulkan adalah konversi penggunaan lahan.
Lahan pertanian telah berubah menjadi kawasan permukiman, perdagangan, industri, infrastruktur pembangunan, dan sebagainya. Kondisi tersebut sangat memperlambat dan mengurangi luas lahan bagi terjadinya infiltrasi air ke dalam tanah. Kemudian yang terjadi adalah banjir.
Banjir adalah genangan air di permukaan tanah. Genangan terjadi akibat tidak baiknya sistem drainase, sehingga tumpahan air hujan dan atau kiriman air dari daerah hulu tidak tertampung oleh sungai. Kondisi tersebut akan sangat mengganggu aktivitas dan membuat penderitaan manusia.
Kerusakan biofisik, kerugian, dan penderitaan saat dan setelah banjir tidak dapat dihindari oleh masyarakat. Kerugian harta benda dan hilangnya nyawa selalu menghantui masyarakat ketika musim hujan tiba. Tingginya curah hujan tidak dapat diminimalkan oleh teknologi. Air kiriman dari kawasan hulu dapat diminimalkan oleh penerapan teknologi konservasi.
Dari sumber datangnya air, antisipasi yang dapat dilakukan adalah prediksi besarnya debit air kiriman dari hulu. Nilai prediksi yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan rekayasa teknologi konservasi tanah dan air.
Masalah lain penyebab banjir adalah sampah. Sisa hasil produksi berupa limbah dari berbagai kegiatan manusia makin berlimpah. Limbah padat (sampah) merupakan faktor dominan penyebab sedimen dan penyumbatan aliran sungai. Penyumbatan saluran sungai akan menghambat lancarnya jalannya air, sekaligus menjadi penyebab meluapnya air.
Sedimen yang melapisi dasar sungai merupakan penyebab makin berkurangnya kapasitas daya tampung sungai.
Ketika Malaysia mendirikan Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) tahun 1983, kita terbelalak. Padahal, mereka sebelumnya banyak belajar dari Indonesia. Inovasi itu ternyata tidak mendorong Indonesia untuk segera mendirikan bank Islam. Jangankan mendirikan bank Islam, mendirikan lembaga keuangan Islam berskala gurem sekalipun tak mungkin. Bukan hanya karena tidak ada sumber daya dan modal, melainkan juga karena tidak ada perhatian dari pemerintah.
Permasalahan lain penyebab banjir adalah pengelolaan daerah aliran sungai sebagai tindakan menuju normalisasi siklus hidrologi. Normalisasi siklus hidrologi kawasan DAS sangat dominan dalam meminimalkan sampai titik terendah banjir dan kekeringan.
Tindakan dalam pengelolaan DAS meliputi bidang-bidang biofisik, pemberdayaan masyarakat, dan kelembagaan. Yang dimaksud dengan biofisik adalah rehabilitasi kondisi lahan kawasan daerah aliran sungai untuk dijadikan arahan di dalam progam perencanaan pengendalian banjir terpadu.
Zona-zona resapan air baik berupa perencanaan kawasan resapan maupun tampungan air (situ/ embung) untuk mendapatkan prioritas pembangunannya. Juga dilakukan penghijauan atau penanaman tanaman (hutan resapan) di kawasan hulu DAS dan penanaman tanaman keras di sepanjang bantaran sungai.
Jika hal itu dilakukan akan diperoleh beberapa hal. Pertama, berkurangnya laju aliran permukaan. Kedua, perbesaran laju infiltrasi air. Ketiga, peminimalan erosi. Keempat, penambahan kadar oksigen dalam udara, dan kelima, penambahan hasil buah dan kayu.
Usaha lain dalam rangka mengurangi banjir adalah pembuatan tampungan air (situ/embung) atau sumur resapan. Pada musim hujan, prasarana itu sebagai tempat penampungan air dan pada musim kemarau berfungsi sebagai sumber air cadangan irigasi.
Yang berkaitan dengan sungai adalah melaksanakan program normalisasi sungai dengan pembuatan turap tebing sungai (beronjong) dalam rangka mencegah longsor dan memperbesar daya tampung air, di samping pengerukan sedimen dari dasar sungai.
Selain itu, pemberdayaan masyarakat dengan penyuluhan, kampanye, dan bimbingan tentang cinta lingkungan diintensifkan sebagai program pembangunan pemerintah daerah. Dalam hal ini, peran pemerintah sebagai fasilitator, tokoh, dan pemuka masyarakat sebagai sosok anutan, lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai pendamping pembangunan, dan perguruan tinggi sebagai pengembang teknologi sangat berarti untuk melangkah bersama dalam memberdayakan peran aktif masyarakat sebagai upaya pengendalian banjir atau kekeringan.
Teknis pelaksanaannya dirumuskan bersama secara komprehensif di bawah koordinasi Badan Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) yang bertanggung jawab atas kelestarian sumber air dalam lingkup kawasan DAS.

Kelembagaan
Di tingkat kelembagaan, penanganan masalah banjir (air) berarti juga soal sistem hidrologi. Dalam perencanaan pengendalian banjir, pemecahannya harus ditinjau dari sudut pandang kawasan DAS, tidak dapat per daerah administratif yang ada dalam satu kawasan. Pembicaraan harus dilakukan bersama antarpemerintah daerah kota/ kabupaten (dinas terkait) dalam satu pandangan, yaitu program perbaikan komponen-komponen sistem hidrologis DAS. Badan pengelolaam sumber daya air dapat ditunjuk sebagai koordinator.

Tidak ada komentar: